Fenomena frost atau embun beku di TNBTS. (Foto: instagram @tnbromotenggersemeru).
Fenomena frost atau embun beku di TNBTS. (Foto: instagram @tnbromotenggersemeru).

Embun beku atau disebut juga fenomena frost (banyu upas) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) yang menyambut wisatawan di musim kemarau setiap tahun, kali ini tak bisa dinikmati.

Sebab, pandemi Covid-19 yang urung melandai membuat kawasan wisata tersebut hingga saat ini masih ditutup total.

Baca Juga : Wisata Nangkula Park Resmi Dibuka, Protokol Kesehatan jadi Prioritas

Alhasil, para wisatawan yang biasanya sengaja berkunjung di musim tersebut mau tidak mau harus mengurungkan hal itu. Padahal fenomena ini biasanya menjadi hal yang paling ditunggu, bahkan menjadi daya tarik bagi wisatawan karena kemunculan salju tipis di atas tumbuhan hijau.

"Fenomena banyu upas saat ini berbeda dengan tahun 2019 lalu. Tahun lalu justru menjadi daya tarik bagi wisatawan domestik dan mancanegara. Tapi, karena Covid-19 kawasan wisata masih di tutup total," ujar Kepala Sub Bagian Data Evaluasi Pelaporan dan Humas TNBTS, Syarif Hidayat.

Meski pihaknya saat ini telah menyiapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19, namun untuk membuka kembali kawasan wisata TNBTS masih masih menunggu keputusan dari Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

"Kita mematuhi Satgas Covid-19, sejauh ini kami sudah membuat protokol kesehatan. Tapi pelaksanaannya perlu dibicarakan lagi melibatkan berbagai pihak," terangnya.

Untuk diketahui, frost ini merupakan fenomena alam tahunan yang pertama kali muncul di Ranupane, Lumajang. Yaitu di jalur pendakian ke Gunung Semeru. Kemudian di Cemorolawang, Probolinggo, yang merupakan kawasan wisata Gunung Bromo. 

Baca Juga : Target Kunjungan Wisatawan di Kota Batu Diturunkan dari 7 Juta jadi 3 Juta

Selanjutnya, cuaca dingin yang cukup ekstrim membuat embun membekukan dedaunan dan rumput di kawasan wisata setempat. Yang mana hal itu malah menjadikan pemulihan ekosistem alami.

"Biasanya, rumput dan tanaman yang terkena frost akan memunculkan regenerasi rumput hijau yang lebih eksotis," tandasnya.