Lutfan menyiapkan buku-buku yang akan dibawanya berjualan pentol keliling. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)
Lutfan menyiapkan buku-buku yang akan dibawanya berjualan pentol keliling. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)

Mohammad Lutfan Efendi (29), seorang penjual pentol di Kabupaten Jombang, patut diacungi jempol. Pasalnya, dia sehari-hari menjajakan dagangannya sembari membawa puluhan buku bacaan untuk dibaca  para pelanggannya.

Lutfan yang merupakan warga Desa Ngudirejo, Kecamatan Diwek, Jombang, ini sudah berjualan pentol sejak Desember 2016 lalu. Namun, baru sepekan terakhir ini ia mulai berjualan sambil membawa buku bacaan.

Baca Juga : Banjir Landa Halmahera Selatan, Dewan Bantu Benahi Saluran Tersumbat

 

Dikatakan Lutfan, ide awal berjualan pentol sambil membawa buku ini berawal dari teman-temannya pegiat literasi di Jombang. Karena dekat dengan para pegiat literasi, ia berpikiran untuk berjualan sambil membawa buku bacaan.

Dengan begitu, Lutfan  berharap yang dilakukan tersebut bisa membawa manfaat untuk orang lain. Terlebih lagi bisa meningkatkan minat masyarakat untuk membaca buku.

"Awalnya saya banyak teman pegiat literasi. Saya melihat mereka itu orang baik, kok saya hanya berjualan, kok saya cuma berteman dengan mereka. Kenapa mereka bisa, sedangkan saya nggak bisa. Dari situ, saya ingin berbuat baik untuk orang lain. Jadi, dari sana, saya mulai berpikir berjualan pentol sambil membawa buku. Toh membawa rezeki,  juga membawa manfaat," ungkapnya kepada wartawan di kediamannya.

Suami Diah Purnawati (24) ini setiap harinya berjualan pentol menggunakan gerobak motor berukuran satu meter. Di atas gerobak motor itulah, buku bacaan untuk pelanggannya ditata rapi berdampingan dengan panci berisi pentol dan etalase kaca yang berisi stok pentol.

Lutfan mulai berangkat berjualan pukul 16.00 - 21.00 WIB. Ia hanya berkeliling berjualan pentol di desa tempatnya tinggal. Buku-buku yang dibawa Lutfan terdiri dari buku bacaan ilmu pengetahuan, komik, novel, dongeng, hingga majalah dan buku tentang kehidupan.

Biasanya para pembeli langsung mengambil buku yang sudah disiapkan untuk dibaca di tempat secara gratis. Bapak satu anak ini juga mempersilakan pelanggannya untuk membawa pulang bukunya untuk dibaca di rumah. 

"Membaca buku 5 sampai 10 menit terus dikembalikan. Sebagian izin dibawa pulang karena belum selesai membaca. Kalau mau tukar dengan buku yang baru, harus mengembalikan buku yang sudah dipinjam sebelumnya," ujarnya.

Kebanyakan pelanggan yang membaca bukunya itu adalah anak-anak usia sekolah dasar (SD). Sebagian pelanggannya yang usia remaja biasanya membaca buku-buku novel.

"Kalau anak-anak yang belum memegang gadget itu antusias membacanya besar sekali. Kalau untuk yang usia remaja, yang biasa pegang gadget, antusiasnya menurun," tandasnya.

Baca Juga : Puluhan Anggota Komunitas Sepeda di Kediri Ikuti Safety Riding dan Etika Berlalu Lintas

 

Sementara ini, buku-buku yang dimiliki Lutfan baru 40 buah. Buku tersebut ia dapat dari meminjam di perpustakaan milik pegiat literasi di Jombang. Namun, ia berencana akan menyisihkan sebagian pendapatannya dari berjualan pentol untuk membeli buku.

"Secara pribadi, saya ingin sekali punya buku sendiri, dari hasil saya sendiri, dari jerih payah saya sendiri. Dan buku itu bermanfaat untuk orang lain. Saya akan sisihkan setelah  kebutuhan keluarga dan lain-lain untuk membeli buku," kata dia.

Berjualan pentol dengan membawa buku, Lutfan mendapatkan dukungan dari istrinya. Istri Lutfan, Diah Purnawati, merestui suaminya yang berjualan pentol dengan membawa buku itu.

Dikatakan Diah, niat suaminya berjualan pentol dengan membawa buku itu sebelumnya sudah disampaikan kepadanya. Suaminya menyampaikan bahwa ingin mengajak anak-anak di desanya untuk giat membaca daripada bermain gadget.

"Alhamdulillah merestui dengan men-support. Sempat pamit kalau mau jualan sambil bawa buku. Waktu itu alasannya gelisah karena banyak anak-anak yang memegang gadget ketimbang membaca buku," pungkas Diah.