Ilustrasi (Ist)
Ilustrasi (Ist)

17 Februari bukan tanggal biasa. Sejarah mencatat, sejumlah peristiwa bencana alam melanda berbagai belahan dunia serta menimbulkan ribuan korban jiwa. 

Dari bencana alam gempa bumi sampai tsunami hingga terbaru jumlah korban jiwa yang disebabkan virus Corona.

Berbagai peristiwa di tanggal 17 Februari itu pun sampai saat ini masih menjadi kenangan buruk karena memberikan efek yang dahsyat. 

Misalnya, peristiwa gempa dan tsunami yang terjadi di kawasan timur Indonesia Ambon, 17 Februari 1674. 

Bencana itu menelan ribuan korban jiwa, tepatnya 2.322 orang di Ambon dan Pulau Seram, termasuk 31 orang Eropa.

Kedahsyatan gelombang raksasa yang disebut George Everhard Rumphius, ahli botani Jerman yang bekerja kepada VOC, di tanggal 17 Februari itu sebagai gelombang raksasa yang tak ada tandingannya sepanjang sejarah Nusantara.

Walau bisa selamat dari intaian maut, Rumphius harus merelakan anak dan istrinya yang jadi korban mega-tsunami. 

Dirinya pun mencatat peristiwa itu, seperti dikutip dari dokumen UNESCO berjudul Air Turun Naik di Tiga Negeri: Mengingat Tsunami Ambon 1950 yang disusun oleh Hamzah Latief dan kawan-kawan (2016).  

Buku terbitan Belanda di tahun 1998 yang diterjemahkan Anis de Freter di Amsterdam.

“Lonceng-lonceng di Kastil Victoria di Leitimor, Ambon, berdentang sendiri. Orang berjatuhan ketika tanah bergerak naik turun seperti lautan. Begitu gempa mulai menggoyang, seluruh garnisun, kecuali beberapa orang yang terperangkap di atas benteng, mundur ke lapangan di bawah benteng, menyangka mereka akan lebih aman."

“Akan tetapi, sayang sekali tidak seorang pun menduga bahwa air akan naik tiba-tiba ke beranda benteng. Air itu sedemikian tinggi hingga melampaui atap rumah dan menyapu bersih desa. Batuan koral terdampar jauh dari pantai."

“Semua orang berlari ke tempat lebih tinggi untuk menyelamatkan diri, dimana mereka bertemu dengan gubernur. Ia memimpin doa di bawah langit yang cerah sambil mendengarkan bunyi ledakan seperti meriam di kejauhan, terutama terdengar dari utara dan barat laut."

Peristiwa lain terjadi tanggal 17 Februari 1996, gempa bumi berpotensi tsunami mengguncang Pulau Biak. 

Dikenal dengan peristiwa Gempa Bumi Biak atau Gempa Bumi Irian Jaya (Papua), kekuatan gempa mencapai 8,2 magnitudo dan intensitas Mercalli VIII atau kategori parah. 

Gempa itu telah membuat warga sekitar meregang nyawa di sore tanggal 17 Februari 1996 itu.

Tercatat 166 orang tewas atau hilang dan 423 lainnya luka-luka. Sedangkan 5.090 orang kehilangan tempat tinggal dengan adanya bencana tsunami dengan gelombang laut mencapai 7 meter.

Bergeser ke Desa Guinsaugon, Pulau Leyte, Filipina, Jumat 17 Februari 2006. Tanah longsor terjadi setelah gunung Kan Abag longsor dan mengubur hampir seluruh bangunan di desa itu.

Philippine Landslide and Flood Operations Update #7, 2009, at the Wayback Machine, red, Red Cross, Appeal #MDRPH00107, update August 7, 31, 2007, menyatakan, jumlah korban resmi ditetapkan sebesar 1.126 orang.

Terbaru, bencana yang dipicu penyebaran virus corona yang menggemparkan seluruh warga dunia. 

Sampai tanggal 17 Februari 2020, korban jiwa tercatat telah mencapai 1.765 seperti dilansir oleh AFP. 

Sedangkan warga yang terinfeksi virus bernama resmi Covid-19 yang penyebarannya sejak Desember 2019 lalu telah mencapai 70.400 orang.