Roby Mufid Susana saat ditemui di rumahnya di jalan Mojomulyo, Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo, Sabtu (24/8/2019). (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)

Roby Mufid Susana saat ditemui di rumahnya di jalan Mojomulyo, Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo, Sabtu (24/8/2019). (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)


Editor

A Yahya


Berdesak-desakan, diselimuti kepulan asap api itu yang dialami oleh Roby Mufid Susana, korban selamat dari musibah terbakarnya KM Santika Nusantara di Perairan Masalembu, Sumenep, Madura, Jawa Timur, Kamis (22/8/2019) malam. Dia pun bersyukur bisa selamat dari kejadian nahas tersebut. 

Peristiwa yag sulit dilupakan oleh Mufid itu tenyata bukan pertama kalinya. Sebelumnya, Mufid juga pernah mengalami hal serupa.  Ya Mufid mengalami kondisi yang sama seperti 10 tahun yang lalu atau tahun 2009 silam. “Ini sudah saya alami ke dua kalinya saat menaiki KM Mandiri di Kepulauan Keramaian,” kata warga jalan Mojomulyo, Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo.

Mufid sampai di Kota Batu pada Sabtu (24/8/2019) setelah mendapat pertolongan dari sebuah kapal yang menjemputnya bersama korban lain pada Jumat (23/8/2019) pagi. “Saya bertahan di kapal yang terbakar sampai ada kapal lainnya yang menjemput,” imbuhnya. 

Pria yang sejak tahun 2008 bekerja mengirim sayur itu menceritakan kronologi musibah ke dua kali yang dialamimya itu. Mulanya ia melihat dan mendengar suara ramai dalam kapal tersebut.

Lalu di antara keramaian itu ada yang menarik selang pemadam untuk melalukan pemadaman. Mengetahui jika kapal yang ditumpanginya itu kebakaran, Mufid langsung mengemasi barangnya. “Handphone ini saya masukkan di kantong plastik, mengantisipasi kalau nanti terpaksanya harus masuk air. Lalu saya langsung cari pelampung,” tambah pria 38 tahun ini.

Kemudian ia pun mencari lokasi yang aman dan jauh dari area yang terbakar itu. Di sana ia bersama 58 orang lainnya yang memilih untuk tenang di atas kapal kondisi terbakar. “Mereka yang panik itu menggunakan pelampung langsung loncat menyelamatkan diri di dalam air,” jelasnya. 

Saat di sana pukul 21.45, api pun tak kunjung reda. Dentuman dari area parkiran kendaraan itu terus terjadi. Kondisi kapal pun lanjut Mufi, terasa panas.  “Selama di atas kapal cuman bisa diam tenang, mendengarkan arahan dari petugas di sana. Sampai akhirnya jam setengah 6 di sana kapal lain datang,” ucap bapak satu anak ini. 

Saat itu rencananya Mufid akan mengirim sayur ke Balikpapan seperti biasanya. Dia pun berharap kejadian tersebut tidak dialami lagi. 


End of content

No more pages to load