Anne Avantie didampingi Bupati Jember saat bertemu dengan pelaku UMKM dan industri kreatif di Jember (foto : istimewa / JatimTIMES)

Anne Avantie didampingi Bupati Jember saat bertemu dengan pelaku UMKM dan industri kreatif di Jember (foto : istimewa / JatimTIMES)



Kehadiran Anne Avantie perancang busana ternama di event Jember Fahion Carnival (JFC) tidak hanya memberi support kepada event internasional yang belum lama ditinggal oleh pendirinya Dynand Fariz, tapi kehadiran wanita dengan panggilan Bunda Anne ini juga untuk menularkan ilmu keberhasilannya kepada ratusan pelaku UMKM dan industri kreatif di Jember.

“Bunda Anne merupakan tamu Pemerintah Kabupaten Jember, oleh karena itu, kehadirannya di Jember bisa memberi manfaat yang besar bagi masyarakat Jember, saya berharap pelaku UMKM dan industri kreatif di Jember bisa mencontoh keteladanan Bunda Anne yang merintis usahanya dari bawah, dan saya senang Bunda Anne mau mengajak UMKM Jember untuk menggali potensi,” ujar Bupati Jember dr. Hj. Faida MMR 

Dalam kesempatan tersebut, bupati juga mengajak kepada pejabatnya untuk senantiasa melakukan pendampingan terhadap pelaku UMKM, tidak hanya sekedar memberi akses dan pendanaan. “Perlu pendampingan dari hati ke hati, sehingga ada hubungan emosional, dari sinilah akan diraih kesuksesan,” beber bupati.

Sementara Anne Avantie sendiri menyampaikan, bahwa kedatangannya ke Jember selain menghadiri undangan Dynan Fariz pendiri JFC semasa hidupnya, dirinya juga ingin merasakan secara histori emosional dari hati ke hati dan mengetahui pasti seperti apa pemimpin di Jember, serta mengajak UMKM dan pelaku industri di Jember untuk mengikuti seminar yang bertajuk ‘Badai Pasti Berlalu’.

Dalam seminar tersebut, Bunda Anne lebih banyak sharing tentang pembelajaran realita. Yaitu sesuatu hal yang tidak dibuat, karena terjadi. Disini diharapkan seseorang tidak masuk dalam lubang yang sama. “(Masuk lubang yang sama) itu bisa dihindari ketika kita mempersiapkan diri untuk mengerti dan berproses secara alami, dan proses itu Tuhan akan terlibat,” jelas Bunda Anne.

Bunda Anne juga menyampaikan, bahwa apa yang terjadi adalah sebuah realita kehidupan yang harus dilalui dan ada cara untuk jalan keluarnya. “Hanya, kita mau atau tidak menjalaninya,” ungkapnya.

Dalam berjuang, sebutnya, tidak selalu baik-baik saja, karena pekerjaan pasti naik turun. Tapi, roda usaha terus berputar. Seperti sejarah Anne sendiri selama 30 tahun terakhir. Bagi Bunda Anne, jatuh bangun memang harus terjadi, karena dengan ini seeorang bisa bijaksana dalam mengambil keputusan dan menjalin hubungan dengan orang lain atau bersinergi.

“Personal ini tidak bisa sendiri-sendiri, harus ada kelegaan dalam beragama dan seseorang, sedangkan hubungan kita dengan pemimpin merupakan suatu relasi hubungan emosional, yang itu merupakan sebuah sarana untuk punya kendaraan dengan tujuan yang sama, sederhana tapi mempunyai arti,” katanya. (*)

 


End of content

No more pages to load