Insiden Pemukulan KPU vs Bawaslu Jember, Ini Kronologinya

Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo saat diwawancarai wartawan terkait insiden KPU versus Bawaslu. (foto : Moh. Ali Makrus / Jatim TIMES)
Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo saat diwawancarai wartawan terkait insiden KPU versus Bawaslu. (foto : Moh. Ali Makrus / Jatim TIMES)

JEMBERTIMES – Proses rekapitulasi suara Pemilu Legislatif 2019 di Jember diwarnai insiden pemukulan  oleh AJ dan YS, dua staf KPUD Jember, terhadap M. Syaiful Rohman, staf Bawaslu Jember.

Insiden itu terjadi di Hotel Aston, tempat penghitungan suara. Saat itu AJ dan YS berjaga  di pintu masuk.

 Atas kejadian ini, Syaiful Rohman melaporkan kasus pemukulan yang dialaminya ke Mapolres Jember. “Memang benar ada laporan dari staf Bawaslu ke polres atas pemukulan yang terjadi saat proses rekapitulasi. Saat ini masih dalam tahap pemeriksaan dan korban sudah dimintakan visum. Cuma, hasil visum masih belum keluar,” ujar Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo kepada sejumlah wartawan Selasa (30/4/2019) malam ketilka menghadiri acara Istighosah Buruh di Gedung Bhayangkara Jember. 

Menurut kapolres, insiden ini terjadi saat  Syaiful berniat masuk ke ruang rekapitulasi suara dengan mengenakan ID card pemantau. Kemudian oleh dua staf KPU, Syaiful dihentikan dan ditanya dari lembaga mana. Ketika dijawab dari Bawaslu dan menunjukkan ID card pemantau, oleh staf KPU, ID card tersebut diminta. Lalu  staf KPU menyobek ID card itu dan menaruh di bawah meja.

 “Saat dirobek itulah, ada cekcok. Kemudian menurut beberapa petugas yang ada di lokasi, korban memindahkan meja yang digunakan untuk menutupi ID card dengan menggesernya menggunakan kaki. Karena oleh staf KPU dianggap tidak sopan, terjadi pemukulan,” beber kapolres. 

Ketika ditanya apakah ada luka di beberapa bagian luar korban, kapolres menjelaskan bahwa ada beberapa luka memar di pelipis dan tangan korban. Syaiful juga mengaku merasa pusing di bagian kepalanya. 

“Memang ada luka luar yang kasat mata, yaitu luka memar di pelipis dan tangan korban. Tapi kami tetap menunggu hasil visum. Kalau visumnya keluar dan menunjukkan adanya tanda-tanda kekerasan, tentu akan kami tindak lanjuti,” ujarnya. 

Dari informasi yang berhasil dihimpun media ini, kejadian ini terjadi pada Selasa (30/4/2019) siang. Saat itu, Syaiful berniat mengantar berkas yang diminta anggota Bawaslu  ke dalam ruang rekapitulasi. Namun karena tidak memiliki ID card khusus Bawaslu, Syaiful mengenakan ID card pemantau sehingga terjadi kesalah pahaman.

Repitulasi surat suara di Hotel Aston ini memang dijaga ketat aparat kepolisian bersenjara lengkap. Tidak semua orang bisa masuk. Hanya mereka yang memiliki ID card yang dikeluarkan KPU yang bisa masuk. Di antaranya panitia, undangan, partai dan saksi, pemantau, Bawaslu dan pers.

Pewarta : Moh. Ali Mahrus
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Jember TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jembertimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jembertimes.com | marketing[at]jembertimes.com
Top